Kamis, 06 Januari 2011 DALIL TERTIB DAKWAH DAN TABLIGH

Tanggungjawab Dakwah

Setiap muslim yang mempunyai kalimat Laailaahaillallaah Muhammadurrasulullah mempunyai tanggungjawab terhadap diri sendiri dan keluarga, kerabat dan tetangga dekat, kampung sekitarnya dan manusia seluruh alam.

1.      Dakwah terhadap diri sendiri dan keluarga.
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At-Tahrim ayat 6)

2.      Dakwah terhadap kaum kerabat dan tetangga dekat

Artinya : “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (QS Asy-Syu’ara 214)


3. Dakwah terhadap kampung atau daerah sekitarnya.
 Artinya : “Dan ini (Al Qur'an) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya  dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya. Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al Qur'an) dan mereka selalu memelihara shalatnya.” (QS Al-An’am 92).

4. Dakwah atau tanggung jawab manusia seluruh alam.

Artinya : Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk seluruh manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”  (QS Ali Imran 110).

Bagaimana mengamalkan ayat-ayat tersebut ?
Untuk diri sendiri dan keluarga salah satu usahanya yaitu kita buat ta'lim dirumah dan silahturahmi ke ulama ataupun ikut pengajian para ulama, insya Allah dengan ta'lim dirumah dan datang ke ulama akan menyelesaikan tanggung jawab diri sendiri dan keluarga,
Untuk kaum kerabat dan tetangga dekat, maka alim ulama memberikan waktu minimal 2,5 jam setiap hari untuk silahturahmi ke kaum kerabat dan tetangga dekat, dan dalam prakteknya memang kelemahan kami belum bisa sampai 2,5 jam padahal sekarang sudah diarahkan kepada 8 jam setiap hari (membagi waktu menjadi 3 bagian, untuk diri sendiri, untuk keluarga dan untuk umat, 24jam/3=8jam),
Untuk kampung sekitar atau kota sekitar maka waktunya kami sediakan minimal 3 hari setiap bulan, dan insya Allah sekarang dihimbau untuk berusaha menuju 10 hari setiap bulan, sehingga silahturahmi dengan kampung sekitar tetap terjaga.
Kemudian yang terakhir untuk seluruh manusia ini tentunya sangat berat karena jumlah manusia lebih dari 5 milliar, maka dengan kelemahan kami alim ulama telah ajak keluar dalam waktu yang agak lama yaitu 40 hari dan atau 4 bulan baik di dalam negeri maupun ke luar negeri. Memang seumur hidup belum tentu bisa mendatangi semua orang, tetapi Insya Allah dengan niat untuk mendatangi seluruh manusia kemudian mengajak orang yang lain buat usaha yang sama maka Allah akan terima niat kita, sebagaimana Rasulullah SAW diutus untuk seluruh umat sampai hari terakhir yang Allah kehendaki namun umur beliau hanya 63 tahun, tapi Allah terima usaha yang dilakukan Rasulullah SAW sehingga usaha ini masih akan berlanjut sampai hari terakhir yang Allah kehendaki. Jadi usaha da'wah rasulullah yang dilakukan ini bukan hanya 3 hari, 40 hari atau 4 bulan saja, tapi setiap hari dan seumur hidup kita untuk dakwah dan dakwah menjadi maksud hidup.


Tertib Keluar 3 Hari, 40 Hari dan 4 Bulan
Abu Abil Hasan (bekas pelajar Darul Ulum Faisalabad Pakistan) menulis : Dakwah dan Tabligh ialah kerja para Ambiya’ (nabi-nabi). Dan inilah juga usaha yang telah dipertanggungjawabkan oleh Allah kepada seluruh umat Islam. Maksud kepada usaha ini ialah supaya seluruh manusia dapat mengamalkan keseluruhan agama. Usaha untuk menghidupkan agama ini tidak memadai dengan hanya meluangkan waktu 3 hari, 40 hari dan 4 bulan. Bahkan harus berjuang dan berjihad seumur hidup kita. Ini telah dijelaskan oleh Allah SWT didalam al-Qur’an. Allah SWT berfirman:
Artinya : “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri mereka dan harta mereka dengan (balasan) syurga untuk mereka (disebabkan) mereka berperang dijalan Allah, maka (diantara) mereka ada yang membunuh dan terbunuh. (Balasan Syurga yang demikian ialah) sebagai janji yang benar yang ditetapkan oleh Allah didalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an; dan siapakah lagi yang lebih menyempurnakan janjinya daripada Allah? Oleh karena itu bergembiralah dengan jualbelinya itu dan (ketahuilah bahwa) jualbeli (yang seperti itu) ialah kemenangan yang besar.” (At-Taubah ayat 111).
Dalam ayat tersebut, Allah telah membeli dan meminta keseluruhan hidup orang mukmin dan harta mereka untuk berjuang menegakkan agama Allah. Bukan hanya 4 bulan dan 40 hari saja. Tetapi  pada hari ini umat Islam, untuk dapat melaksanakan satu perintah Allah yang paling besar yaitu shalat, yang hanya mengambil masa beberapa menit saja sudah tidak ada waktu karena sibuk dengan fikir dan kerja-kerja dunia. Apa lagi untuk keluar seumur hidup…
Umat hari ini telah jauh dari agama. Kemampuan yang ada pada mereka juga berbeda-beda. Melalui panduan Al-Qur’an dan Hadits ini para Ulama’ dan masyaikh yang telah mengorbankan waktu, diri dan hartanya untuk aga Allah, telah menetapkan nishab yang mampu diikuti oleh setiap umat Islam. Memanglah tidak ada ayat Al-Qur’an yang memerintahkan untuk keluar bertabligh selama 3 hari, 40 hari dan 4 bulan, tetapi bilangan dan angka ini banyak terkandung didalam Al-Qur’an dan hadits.
Kenapa angka-angka ini tercatat didalam Al-Qur’an dan Hadits? Sudah pasti ada hikmahnya di balik angka tersebut. Marilah kita ikuti beberapa pandangan Ulama’ dan betapa besar hikmah bilangan hari-hari tersebut.

1. Dalil dan Hikmah Keluar 3 Hari
a.       Suasana amat mempengaruhi seseorang. Seorang yang duduk didalam suasana iman dan akhlak yang baik dan dipenuhi dengan ibadat dalam masa tiga hari sudah pasti akan membenihkan satu suasana dan kejernihan hati didalam sanubari seseorang. Di zaman Nabi SAW orang-orang kafir yang ditawan akan dikurung disekitar masjid. Tujuannya ialah supaya mereka dapat melihat amalan-amalan orang Islam didalam masjid.

Didalam Sahih Bukhari jilid kedua bab Maghazi dinukilkan bahwa seorang lelaki bernama Sumamah bin Ausal dari banu Hanafiah telah ditawan dan diikat didalam masjid Nabi. Selama 3 hari beliau telah melihat amalan orang Islam yang sibuk dengan amalan dakwah, belajar dan mengajar, beribadat dan berkhidmat diantara satu sama lain. Hari yang pertama beliau tidak mau menerima Islam. Begitu juga pada hari yang kedua. Pada hari yang ketiga baginda Rasulullah SAW telah membebaskannya. Setelah dibebaskan dari tawanan beliau merasakan sesuatu didalam hatinya, lantas beliau mandi dan datang kembali ke masjid Nabi, bertemu dengan baginda Rasulullah SAW dan terus memeluk agama Islam. Betapa besarnya perubahan pada diri Sumamah yang amat berkesan dengan amalan masjid pada ketika itu. Dalam masa tiga hari menjadi sumber hidayah kepadanya.

b.      Jemaah-jemaah yang dihantar oleh baginda Rasulullah SAW atas maksud dakwah atau berjihad akan diberi penerangan tertib dan usul bagaimana untuk berdakwah dan berperang. Diantaranya ialah :
• Jangan memerangi mereka sebelum diberi dakwah selama 3 hari.
• Jangan membunuh kanak-kanak, wanita dan orang-orang tua yang lemah dikalangan mereka.
• Jangan membuat kerusakan pada harta benda, tanam-tanaman dan membunuh binatang ternak.
Kenapa baginda memberi tempo selama 3 hari dengan memberikan dakwah terlebih dahulu sebelum memulai peperangan? Ini pengajaran dari baginda Rasulullah SAW bahwa didalam Islam tidak ada peperangan tanpa memberi dakwah terlebih dahulu. Melalui amalan dakwah selama 3 hari ini orang-orang kafir akan melihat muamalah dan akhlak orang-orang Islam terhadap orang kafir sendiri. Ini sudah pasti akan mempengaruhi jiwa mereka dan memeluk agama Islam. 
Dari Ibnu Umar r.a. berkata: Nabi SAW telah memanggil Abdul Rahman bin Auf r.a. lalu bersabda: Siap sedialah kamu, maka sesungguhnya aku akan menghantar engkau bersama satu jama'ah maka menyebut ia akan hadis dan katanya: Maka keluarlah Abdul Rahman hingga berjumpa dengan para sahabatnya, maka berjalanlah mereka sehingga sampai ke suatu tempat pertama bernama Daumatul Jandal, maka manakala ia masuk ke kampung itu ia mendakwah orang-orang kampung itu kepada Islam selama tiga hari. Manakala sampai hari yang ketiga dapat Islamlah Asbagh bin Amru al Kalbi r.a. dan adalah ia dahulunya beragama Nasrani dan ia ketua di kampung itu.
(Hadith riwayat Darul Qutni, dipetik dari kitab 'Risalah ad Dakwah - Apa itu Dakwah Tabligh', susunan Hj. Abdul Samad Pondok Al Fusani Thailand, terbitan Perniagaan Darul Khair, 1988)

Kisah ini juga dapat dilihat didalam Hayatus Sahabah dimana baginda Rasulullah SAW telah menghantar Abdul Rahman bin Auf r.a. ke satu tempat bernama Daumatul Jandal. Ketika beliau sampai ke Daumatul Jandal lantas beliau mendakwahkan kepada mereka (penduduk Daumatul jandal) selama tiga hari supaya memeluk agama Islam. Maka pada hari yang ketiga Asbagh bin Amar Al Kalbi telah memeluk agama Islam. Beliau ialah seorang nasrani dan ketua di kalangan mereka.
c.       Hadzrat Zakaria AS seorang Nabi yang telah tua. Ketika Allah SWT hendak mengurniakan anak kepadanya beliau bertanya “Wahai Allah apakah tandanya yang engkau akan mengurniakan anak kepadaku sedangkan aku telah tua?” Allah SWT menjawab sebagaimana didalam Al-Qur’an:
“Tandanya bagimu kamu tidak boleh berbicara dengan manusia selama tiga hari kecuali dengan isyarat. Berzikirlah kepada Tuhanmu sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah diwaktu pagi dan petang.” (Ali Imran ayat 41).
Para mufassirin berkata tanda diterimanya doa Hadzrat Zakaria AS ialah dia tidak boleh berbicara selama tiga hari kecuali dengan isyarat. Pada masa itu Allah SWT telah memerintahkan Hadzrat Zakaria AS supaya berzikir sebanyak-banyaknya dan meninggalkan perkataan-perkataan dunia untuk menambah pendekatannya kepada Allah. Dari ayat ini para ulama’ berpendapat bahwa sekiranya manusia dapat mengasingkan diri keluar dijalan Allah selama tiga hari dengan membersihkan diri dari perkara keduniaan, meninggalkan percakapan dunia dan menyibukkan diri dengan amalan dakwah,  beribadah, belajar dan mengajar dan duduk dalam suasana agama sudah pasti akan memberi kesan didalam hati sanubari seseorang itu. Cinta pada agama akan datang, manusia akan membersihkan diri dari dosa-dosa, bertaubat dan mendekat kepada Allah SWT. Demikianlah hikmah yang terdapat didalam masa tiga hari. Isyarat dari Al-Qur’an dan atsar Sahabat inilah yang disarankan supaya setiap orang dapat meluangkan waktu selama tiga hari. Disamping itu ia juga akan menimbulkan kegairahan untuk belajar agama dan mengislahkan/memperbaiki diri sendiri.

2. Dalil dan Hikmah Keluar 40 Hari
Banyak orang mempersoalkan masalah ini. Dari manakah orang-orang tabligh ini mengambil dalil supaya keluar 40 hari. Sebenarnya bilangan 40 hari ini telah banyak disebut didalam al-Qur’an dan Hadith. Keberkatan yang ada padanya telah jelas apabila Allah SWT sendiri telah memerintahkan Musa AS supaya menambah bilangan hari untuk bermunajat kepada Allah sebagaimana didalam al-Qur’an : “Dan Kami telah menjanjikan kepada Musa (memberi Taurat) sesudah berlaku 30 malam dan Kami telah sempurnakan waktu yang telah ditetapkan oleh Tuhannya dengan sepuluh malam. Maka genaplah dari Tuhannya selama empat puluh malam.” (Al A’raf 142)
Begitulah juga didalam Surah al Baqarah ayat 51. Allah SWT menyebut dengan janji-Nya kepada Nabi Musa AS untuk mengurniakan Taurat setelah bermunajat selama empat puluh malam.
Didalam hadith baginda SAW banyak sekali menyebut tentang bilangan 40 ini. Diantaranya ialah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud RA beliau berkata aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya salah seorang daripada kamu dicipta didalam perut ibu selama 40 hari sebagai nutfah kemudian 40 hari menjadi segumpal darah kemudian menjadi segumpal daging kemudian dihantar kepadanya seorang malaikat untuk meniupkan roh dan menulis kepadanya empat kalimat… (HR Muslim)
Dalam hadits lain ada dinukilkan bahwa barangsiapa shalat selama 40 hari berjamaah tanpa ketinggalan takbiratul ula/ihram dari imam akan mendapat dua jaminan. Satu keselamatan dari neraka dan kedua bebas dari nifaq.
Telah diriwayatkan bahwa "Seorang lelaki telah datang kepada Sayyidina Umar ibnu Khattab r.a. maka Sayyidina Umar r.a. pun bertanya: Di manakah engkau berada? Dijawabnya: Saya berada di Ribat. Saiyidina Umar r.a. bertanya lagi: Berapa hari engkau berada di Ribat itu? Jawabnya tiga puluh hari. Maka berkata Saiyidina Umar r.a.: Mengapa kamu tidak cukupkan empat puluh hari?
(Kanzul Ummal, Juzuk 2 muka surat 288, dipetik dari kitab 'Risalah ad Dakwah - Apa itu Dakwah Tabligh', susunan Hj. Abdul Samad Pondok Al Fusani Thailand, terbitan Perniagaan Darul Khair, 1988)

Abdullah bin Abbas RA berkata dihari kematian anak lelakinya lihatlah berapa banyak orang yang berada diluar. Hambanya berkata orang banyak telah berkumpul. “Adakah telah cukup empat puluh orang?” Mereka menjawab “Ya… telah cukup”. Abdullah bin Abbas RA berkata : “hadirilah shalat jenazahmu, karena aku mendengar baginda SAW bersabda bahwa orang Islam yang meninggal dunia dan dishalati oleh 40 orang yang tidak melakukan syirik melainkan telah menjadi hak kepada si mayat bahwa jaminannya pasti diterima”.
Dalam hadith yang lain baginda SAW bersabda : “Barangsiapa mengikhlaskan dirinya kepada Allah selama 40 hari akan zahir sumber-sumber hikmah daripada hati melalui lidahnya”.
Banyak lagi hadits seperti ini yang menunjukkan keberkatan dan keutamaan pada tempo atau bilangan 40 hari. Kita dapat melihat seorang yang keluar dijalan Allah melatihkan dirinya dalam menjalani ketaatan selama 40 hari sudah pasti amalan ini akan terus dilakukan ketika berada di rumah atau dikampungnya.
Daripada hadith-hadith ini dan pandangan nuraniah inilah maka masyaikh dan ulama’ didalam usaha ini menyarankan supaya setiap orang dapat melapangkan masa selama 40 hari mempelajari usaha dakwah dan mengislahkan diri masing-masing.

3. Dalil dan Hikmah Keluar 4 bulan:
Ibn Juraij berkata: “Ada seseorang yang menceritakan kepada saya bahwa pada suatu malam ketika Umar radiyalaahu anhu sedang berkeliling (ghast) di sekitar lorong-lorong kota Madinah, tiba-tiba beliau mendengar seorang wanita sedang melantunkan sya’ir:
Betapa panjang malam ini dan betapa gelap di sekelilingnya. Daku tidak boleh tidur kerana tiada yang tersayang yang boleh ku ajak bercumbu. Andai bukan kerana takut berdosa kepada Allah yang tiada sesuatu pun dapat menyamaiNya. Sudah pasti ranjang ini di goyang oleh yang lainnya
Ketika Umar r.a. mendengar sya’irnya itu, maka dia bertanya kepada wanita tersebut, “Apa yang terjadi padamu?” Wanita itu menjawab, “Saya sangat merindukan suami saya yang telah meninggalkan saya selama beberapa bulan.” Umar r.a. betanya, “Apakah kamu bermaksud melakukan hal yang buruk?” Wanita itu menjawab, “Saya berlindung kepada Allah.” Umar r.a. berkata, “Kuasailah dirimu! Sekarang saya akan mengutus orang untuk memanggil suami mu.”
Setelah itu Umar r.a. bertanya kepada anak perempuannya Hafsah r.anha, “Aku akan bertanya padamu mengenai sesuatu masalah yang membingungkan aku, mudah-mudahan kamu boleh memberi jalan keluar untukku. Berapa lama seorang wanita mampu menahan kerinduan ketika berpisah dari suaminya?” Mendengar pertanyaan itu, Hafsah r.anha menundukkan kepala merena merasa malu. Umar r.a. berkata, “ Sesungguhnya Allah tidak pernah merasa malu dalam hal kebaikan.” Hafsah menjawab sambil berisyarat dengan jari tangannya, “Tiga sampai empat bulan.” Kemudian Umar r.a. menulis surat kepada setiap amir (pimpinan) pasukan tentera Islam supaya tidak menahan anggota pasukannya lebih dari 4 bulan.” (Riwayat Abdur Razzaq dalam kitab Al-Kanz Jilidl VIII, m/s.308).

Ibnu 'Umar (Radiallahu'Anhu) mengatakan bahwa pada suatu malam Umar r.a. keluar (untuk melihat keadaan orang banyak), tiba-tiba beliau mendengar seorang wanita sedang bersya’ir:
Betapa panjang malam ini dan betapa gelap di sekelilingnya. Aku tidak bisa tidur karena tiada yang tersayang yang bisa kuajak bercumbu.
Kemudia Umar r.a. bertanya kepada Hafsah r.anha, “Berapa lama wanita dapat bertahan tidak bertemu dengan suaminya?” Hafsah r.anha menjawab, “Enam atau empat bulan.” Maka Umar r.a. berkata, “Untuk selanjutnya saya tidak akan menahan tentera lebih dari masa itu.” (Hr. Baihaqi dalam kitabnya jilid IX m/s 29) [seperti yang dipetik juga dari kitab Hayatus Sahabah, bab Al-Jihad]

Fatwa Ulama:
Oleh Mufti Ebrahim Desai, Darul Ifta, Madrasah In'aamiyyah, Camperdown, South Africa.
Istilah, 'Tashkeel' (yang biasa digunakan dalam Jamaah Tabligh), bermaksud menyeru orang banyak dari kaum Muslimin untuk memberi waktu mereka, untuk keluar di Jalan Allah dengan tujuan pengislahan diri dan membuat kerja dakwah dan tabligh dalam jangka waktu tertentu, seperti 3 hari, 10 hari, 15 hari, 40 hari, 4 bulan, 7 bulan, 1 tahun dsbnya. Jangka waktu tersebut bukan satu kemestian tapi hanya dianjurkan seperti mana seseorang yang mengikuti kursus, misalnya, dianjurkan untuk mengikuti kursus praktek komputer selama sebulan. Walaupun tidak bermakna dia akan menjadi seorang yang pakar/ahli, sekurang-kurangnya dia tahu apa yang perlu dia lakukan suntuk mengoperasikan komputer. Begitu juga, seseorang yang keluar di Jalan Allah selama 3 hari, atau 40 hari, atau 4 bulan dsbnya, bukan bermakna dia telah menjadi seorang yang ahli atau pakar dalam Shari’ah, tapi sekurang-kurangnya dia tahu apa dikehendaki oleh Syari’ah Islam. Lebih lama waktu yang dia berikan untuk keluar di Jalan Allah, lebih banyak dia akan belajar dan menyempurnakan dirinya sebagai seorang Mukmin. Jangka waktu keluar tersebut bukanlah kriteria yang diwajibkan mengikut Syari’ah..Dan hanya Allah yang Maha Mengetahui.
(Mufti Ebrahim Desai, FATWA DEPT, Jawapan No. 2611)
Mereka berkata: Orang-orang Tabligh membuat bid’ah berupa keluar di jalan Allah secara berjamaah dan membatasi masa keluar 3 hari, 40 hari dan 4 bulan.
Kami katakan: Sesungguhnya keluar untuk memperbaiki diri adalah seperti keluar untuk menuntut ilmu dan usaha hidayah. Juga seperti keluar untuk mendakwah manusia kepada Allah dan mengajar mereka hal-hal yang bermanfaat di dunia dan akhirat. Semuanya itu adalah keluar di Jalan Allah, apabila di landasi niat yang benar dan untuk menggapai ridho Allah Ta’ala, bukan untuk memperolehi harta dan penghormatan atau untuk hiburan, permainan dan kebatilan. Adalah termasuk kelakuan bodoh atau pura-pura bodoh apabila ada orang yang mengingkari keluarnya Jemaah Tabligh untuk kepentingan hidayah bagi manusia, mengajar mereka, memperbaiki diri mereka dan mendidik rohani mereka. 
Rasulullah (sallallaahu alaihi wasallam) bersabda, “Satu petang atau satu pagi keluar di jalan Allah, lebih baik daripada mendapatkan dunia dan segala isinya. Juga sabda Rasulullah (salllalaahu alaihi wasallam), “Barangsiapa mendatangi masjid ini, semata-mata untuk kebaikan yang ia ajarkan atau ia pelajari, laksana mujahid fi sabilillah.” Dan banyak lagi hadits sahih dan hasan yang mengajarkan dan memberi semangat untuk keluar di Jalan Allah. Alangkah ajaibnya perkataan mereka bahwa keluarnya Jamaah Tabligh adalah bid’ah! Dan lebih ajaib lagi mereka berhujah terhadap “keluar fi sabilillah secara berjamaah adalah bid’ah dhalalah” dengan sangkaan mereka bahwa Rasulullah (sallallaahu alaihi wasallam) mengirimkan Mu'az (radiyallaahu anhu) ke Yaman sendirian saja dan tidak berjamaah. Mereka lupa atau tidak tahu bahwa Rasulullah (sallallaahu alaihi wasallam) tidak mengirimkan Mu'az (radiyallaahu anhu) sendirian tetapi mengirimkan Abu Musa Al Asy’ary (radiyallaahu anhu) bersamanya. Baginda (sallallaahu alaihi wasallam) bersabda kepada keduanya, “Gembirakanlah mereka dan jangan kalian buat mereka lari. Mudahkan mereka dan jangan kalian persulit. Bertolong-tolonglah kalian dan jangan berselisih.” Juga beliau mengirimkan Ali bin Abi Talib dan Khalid bin Sa’id bin al Ash (radiyallaahu anhuma). Bersama mereka baginda (sallallaahu alaihi wasallam) mengirimkan rombongan besar untuk dakwah, ta’lim dan memutuskan perkara diantara manusia.
Tentang pembatasan masa keluar yang mereka katakan sebagai Bid'ah, adalah peraturan dakwah sebagaimana peraturan sekolah dan universitas yang mengenal batasan masa belajar, untuk menyiapkan bekal dan ongkos selama masa keluar. Apakah dengan demikian, orang-orang Tabligh dianggap membuat bid’ah hanya karena mereka mengatur hari-hari untuk kepentingan dan khuruj fi sabilillah (keluar di jalan Allah)? Subhanallah!
Seorang hamba Allah, mendakwah manusia pada Allah Ta’ala, kemudian dia mendapat keredhaan untuk dirinya dan saudara-saudaranya yang ia dakwah. Jiwa mereka menjadi suci, hati mereka menjadi bersih dan akhlak mereka menjadi mulia disebabkan mereka selalu mengucapkan kata-kata yang baik dan melakukan amal-amal yang soleh.
Apakah yang menyebabkan kalian marah, wahai hamba-hamba Allah!? Semoga Allah senantiasa menjaga kita. Kami tidak dapat mengatakan bahwa dalam Jemaah Tabligh ada sesuatu yang dapat di anggap sebagai penghalang manusia dari Jalan Allah. Alhamdulillah.
Ditulis oleh Sheikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairy, Guru Besar di Masjid Nabawi dan Universitas Madinah Al-Munawarrah. Dipetik dari buku “Menyingkap Tabir Kesalahfahaman Terhadap Jemaah Tabligh"

Para Sahabat Keluar di Jalan Allah:
Sebanyak 150 jemaah telah dihantar dari Madinah dalam masa 10 tahun tersebut. Baginda s.a.w. sendiri telah menyertai 25 daripada jemaah-jemaah tersebut. Sebahagian jemaah tersebut terdiri daripada 10,000 orang, ada yang 1,000 orang, 500 orang, 300 orang, 15 orang, 7 orang dan sebagainya. Jemaah-jemaah ini ada yang keluar untuk 3 bulan, 2 bulan, 15 hari, 3 hari dan sebagainya. 125 jemaah lagi sebahagiannya terdiri daripada 1000 orang, 600 orang, 500 orang dan sebagainya dengan masa 6 bulan, 4 bulan dan sebagainya.
Sekiranya kita menghitung dengan teliti maka akan didapati rata-rata masa yang diberikan oleh setiap sahabat untuk keluar di jalan Allah dalam masa setahun ialah antara 6 hingga 7 bulan.
(Petikan Bayan Maulana Yusuf: USAHA RASULULLAH SAW DAN SAHABAT RA DALAM KEHIDUPAN MADINAH)

Sahabat radiyalaahu anhum keluar 6 bulan:
Barra Radiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam telah mengutus Khalid ibnu-Walid Radiyallahu 'anhu kepada penduduk Yaman untuk mengajak mereka masuk Islam. Barra berkata: Aku juga termasuk dalam jamaah itu. Kami tinggal di sana selama 6 bulan. Khalid radiyallaahu anhu selalu mengajak mereka untuk masuk Islam, tetapi mereka menolak ajakannya. Kemudian Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam mengutus 'Ali ibnu-Abi Talib Radiyallahu 'anhu ke sana dan memerintahkan kepada Khalid r.a. untuk kembali dengan seluruh jamaah kecuali salah seorang dari jamaah Khalid r.a. yang mau menemani Ali r.a, maka ia boleh ikut serta dengan Ali r.a. Barra r.a berkata: Akulah yang menemani Ali r.a. selama di sana. Ketika kami betul-betul dekat dengan penduduk Yaman, maka mereka keluar dan dan datang kehadapan kami. Lalu Ali r.a. mengatur shaf mereka untuk mengerjakan shalat dan Ali yang menjadi imam dalam shalat kami. Selesai shalat, Ali r.a membacakan isi surat Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam kepada mereka. Setelah mendengar isi surat Rasulullah sallallaahu alaihi wasallam itu, maka seluruh Bani Hamdan masuk Islam. Kemudian Ali r.a. menulis surat kepada Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam yang isinya memberitahukan tentang ke-Islaman mereka kepada baginda. Setelah isi surat tersebut dibacakan kepada Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam, maka baginda langsung sujud syukur kepada Allah Swt. Setelah mengangkat kepala, baginda berdoa: Keselamatan bagi Bani Hamdan. Keselamatan bagi Bani Hamdan. (Bukhari, Baihaqi, Bidayah-wan-Nihayah) (Dipetik dari kitab Muntakhab Ahadith, bab Dakwah dan Tabligh, hadith 108)

Digg it StumbleUpon del.icio.us

1 komentar:

Budid mengatakan...

masya Allah...
aku simpan di book mark ya

budi _ hlqh cinere

Poskan Komentar